-->
  • Jelajahi

    Copyright © WadaslintangCom
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Health

    KETIKA RINTIH ALAM BERUBAH ISAK

    WadaslintangCom
    , Senin, Desember 08, 2025 WIB Last Updated 2025-12-08T12:30:03Z
    masukkan script iklan disini

    Tema: Alamku Menangis

    Judul: KETIKA RINTIH ALAM BERUBAH ISAK

    Karya: siera.putri





    Sedari dulu rintihku tersamar

    Oleh gesekan dedaunan yang kini tak lagi ada

    Menjadi bisik kecil yang mudah kau abaikan

    Menahan nyeri dari tangan-tangan tak mengenal iba

    Saat menorehkan luka yang tiada sempat mengering


    Perlahan koyak itu menghunjam

    Di punggungku yang kian rapuh dari tahun ke tahun

    Mengusir anak-anakku yang ketakutan

    Dari pangkuan yang dulu menjaga mereka hangat

    Seolah kebahagiaan mereka tak pernah berarti bagimu


    Tahukah kau betapa perih tubuhku?

    Setiap sayatan menghapus harapan

    Yang kutumbuhkan demi hidupmu

    Namun kau balas dengan derita yang tak kupinta

    Menghabisi napasku sedikit demi sedikit


    Padahal selama ini akulah

    Yang menanggung dahaga musim panjang

    Menahan amukan bah agar tak menghantammu

    Sementara kau berlalu tanpa peduli

    Membiarkanku mengerang dalam diam yang memar


    Kini, aku tak lagi mampu

    Menyimpan rintih dalam kesunyian yang melelahkan

    Rimbunku telah kau habiskan tanpa hati

    Meninggalkan mayat-mayat kecil anakku

    Di tanah tandus yang dulu jadi buaian kehidupan


    Lalu salahkah bila kini?

    Aku meratap pada Sang Pemilik hidup

    Karena suaraku tak pernah kau dengar

    Meski aku berteriak lewat angin dan hujan

    Sementara luka ini terus membelah tubuhku


    Kau bilang ini murka alam

    Kau tuduh ini dendam yang kupupuk

    Tidak, ini hanyalah tangis

    Yang tak lagi sanggup kutahan sendirian

    Mengendap dalam gelap akar-akar usiaku


    Tangis yang pecah sampai ke inti jantungku

    Meluapkan sedih yang menggenang

    Sejak akar-akarku mulai diputuskan

    Tanpa belas kasih dan tanpa pikir panjang

    Meninggalkan perih yang menua bersamaku


    Bila deraiku melahap istana-istanamu

    Bila hembusku merobohkan bangunanmu

    Tempat kau merasa aman dan jumawa

    Ketahuilah aku tidak sedang membalas

    Melainkan pecahku yang tak mampu kutahan lagi


    Aku hanya ingin kau merasakan

    Sehelai saja dari nyeriku

    Yang selama ini kau abaikan tanpa sesal

    Meski aku setia menjaga kehidupanmu

    Bahkan saat engkau terus melukaiku


    Dan bila kau kini menangis lantang

    Menyebut namaku dengan ketakutan terlambat

    Mungkin itu satu-satunya cara

    Agar isakku mencapai telingamu yang terlalu lama tertutup ambisi


    Bukan, bukan marahku

    Hanya kesedihan panjang yang tak pernah kau lihat

    Meski tiap hari kautinggal di belakangmu

    Sebagai jejak luka yang terus kau buka.


    Kediri, 6 Desember 2025



    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sudut