Tema: Alamku Menangis
Judul: KETIKA RINTIH ALAM BERUBAH ISAK
Karya: siera.putri
Sedari dulu rintihku tersamar
Oleh gesekan dedaunan yang kini tak lagi ada
Menjadi bisik kecil yang mudah kau abaikan
Menahan nyeri dari tangan-tangan tak mengenal iba
Saat menorehkan luka yang tiada sempat mengering
Perlahan koyak itu menghunjam
Di punggungku yang kian rapuh dari tahun ke tahun
Mengusir anak-anakku yang ketakutan
Dari pangkuan yang dulu menjaga mereka hangat
Seolah kebahagiaan mereka tak pernah berarti bagimu
Tahukah kau betapa perih tubuhku?
Setiap sayatan menghapus harapan
Yang kutumbuhkan demi hidupmu
Namun kau balas dengan derita yang tak kupinta
Menghabisi napasku sedikit demi sedikit
Padahal selama ini akulah
Yang menanggung dahaga musim panjang
Menahan amukan bah agar tak menghantammu
Sementara kau berlalu tanpa peduli
Membiarkanku mengerang dalam diam yang memar
Kini, aku tak lagi mampu
Menyimpan rintih dalam kesunyian yang melelahkan
Rimbunku telah kau habiskan tanpa hati
Meninggalkan mayat-mayat kecil anakku
Di tanah tandus yang dulu jadi buaian kehidupan
Lalu salahkah bila kini?
Aku meratap pada Sang Pemilik hidup
Karena suaraku tak pernah kau dengar
Meski aku berteriak lewat angin dan hujan
Sementara luka ini terus membelah tubuhku
Kau bilang ini murka alam
Kau tuduh ini dendam yang kupupuk
Tidak, ini hanyalah tangis
Yang tak lagi sanggup kutahan sendirian
Mengendap dalam gelap akar-akar usiaku
Tangis yang pecah sampai ke inti jantungku
Meluapkan sedih yang menggenang
Sejak akar-akarku mulai diputuskan
Tanpa belas kasih dan tanpa pikir panjang
Meninggalkan perih yang menua bersamaku
Bila deraiku melahap istana-istanamu
Bila hembusku merobohkan bangunanmu
Tempat kau merasa aman dan jumawa
Ketahuilah aku tidak sedang membalas
Melainkan pecahku yang tak mampu kutahan lagi
Aku hanya ingin kau merasakan
Sehelai saja dari nyeriku
Yang selama ini kau abaikan tanpa sesal
Meski aku setia menjaga kehidupanmu
Bahkan saat engkau terus melukaiku
Dan bila kau kini menangis lantang
Menyebut namaku dengan ketakutan terlambat
Mungkin itu satu-satunya cara
Agar isakku mencapai telingamu yang terlalu lama tertutup ambisi
Bukan, bukan marahku
Hanya kesedihan panjang yang tak pernah kau lihat
Meski tiap hari kautinggal di belakangmu
Sebagai jejak luka yang terus kau buka.
Kediri, 6 Desember 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar