-->
  • Jelajahi

    Copyright © WadaslintangCom
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Health

    Sejarah Berdirinya Wonosobo

    WadaslintangCom
    , Kamis, Desember 04, 2025 WIB Last Updated 2025-12-04T09:16:42Z
    masukkan script iklan disini

    SEKILAS PANDANG SEJARAH WONOSOBO 

    Menyimak tentang sejarah Wonosobo, tidak terlepas dari asal usul kata Wonosobo itu sendiri. Dalam cerita tutur, kata Wonosobo berasal dari kata "wono" dan "sobo", wono berarti hutan dan sobo berarti kunjungan sehingga Wonosobo adalah hutan yang menjadi kunjungan. 

    Sehingga tidaklah mengherankan bila Wonosobo menjadi salah satu tujuan kebanyakan orang, karena alamnya yang indah, udaranya sejuk, tentu saja menjanjikan suatu kenangan bagi insan yang mengunjungi. 


    foto ilustrasi; gemini.google.com


    Dalam bahasa sansekerta Wonosobo sendiri berasal dari kata Wanua dan Seba, Wanua merupakan tataran tertinggi dari pada Shima, dan shima sendiri artinya sebuah dusun atau desa, Seba artinya tempat pertemuan. 

    Jadi Wonosobo juga bermakna sebagai tempat bertemunya para pandeta, para musafir, para saudagar dari berbagai belahan dunia melalui pantai utara sambil berdagang, dermaganya berada di Batang, Pekalongan (celong) kemudian naik ke Dieng. Sedangkan Dieng berasal dari kata ardi (Gunung) hyang (tempatnya para dewa), maka Dieng dulunya merupakan tempat meditasi orang-orang dari belahan dunia. 

    Menurut DR. Kusnin tempat meditasi dunia ada 3, yaitu Jamurdipa di Himalaya Tibet, Laksa di India dan Dieng Wonosobo, maka tidak heran kalau di Wonosobo banyak sekali peninggalan pra sejarah. 

    Wonosobo tempo dulu juga tidak dapat terlepas dari tiga tokoh utama didalamnya, tiga tokoh itu adalah Kyai Walik, Kyai Kolodite dan Kyai Karim. 

    Sekitar awal abad XVII ketika kekuasaan Mataram Islam mulai berkembang, tiga orang pengelana yaitu Kyai Walik, Kyai Kolodite dan Kyai Karim mulai merintis suatu pemukiman di daerah Wonosobo.

    Dalam perjalanan sejarahnya Kyai Kolodite berada di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim berada di Kalibeber dan Kyai Walik berada di sekitar kota Wonosobo sekarang ini. Sejak saat itu daerah Wonosobo mulai berkembang dan ketiga tokoh ini yang dikatakan sebagai "cikal bakal" masyarakat Wonosobo sekarang ini. 


    Sejarah membuktikan dengan adanya bangunan-bangunan yang masih kokoh termakan jaman, serta petilasan-petilasan yang masih ada di daerah Pegunungan Wonosobo. 

    Pada suatu saat ketika Kyai Walik hendak menanam bibit sawo beliau berkata: "cuhung ing kono mbesuk dadi papane wong kang duroko" dan terbuktilah sekarang bahwa sebidang tanah yang ditandai dengan pohon sawo kala itu, kini menjadi papan pakunjaran atau Lembaga Pemasyarakatan. Dan lagi, ketika Kyai Walik menanam ringin walik (beringin yang daunnya terbalik), beliau berkata:"cuhung ing kono mbesuk dadi papan sobo lan olah kanuragan" kenyataanya tempat itu kini menjadi paseban dan tempat olah raga, yang kita kenal dengan Alun-alun. 


    Begitu pula ketika menunjuk sebagai tempat peribadatan yang kini berdiri megah Masjid Al-Manshur, serta papan "Pepanjering Peprintahan yang sekarang berdiri kokoh Gedung Kabupaten dengan pendoponya.


    Pada masa itu juga Kyai Kolodete berkata: "rejane Wonosobo mbesuk yen ono bedhahe Tlogo Menjer lan ono wader mangan manggar", sangat menakutkan memang. Namun ketika itu masyarakat belum dapat menemukan arti dari kata-kata itu, kadang masyarakat dihinggapi rasa was-was ketakutan mungkin akan terjadi banjir karena bedhahe Tlogo Menjer. 


    Sedangkan bebasan ono wader mangan manggar belum terjawab masa itu. Namun perlahan dan pasti apa yang diucapkan Kyai Kolodite dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat. 


    Bedhahe Menjer dalam arti dibedhah atau dibuka dan airnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Garung, sedangkan ono wader mangan manggar, sama dengan ada ikan makan manggar (bunga kelapa) yang dianggap sesuatu yang tidak mungkin, kini terjawab, yaitu dengan dibangunnya waduk Wadaslintang dimana genangan air disitu dapat untuk hidup ikan dan air yang menggenang disitu pula telah meneggelamkan pohon kelapa (daerah Wadaslintang banyak ditanam pohon kelapa). 


    Ketiga winasis itu juga mengatakan: "rejaning Wonosobo mbesuk yen pasar waru ilang grengsenge, kedhung ilang kumandhange", yang mempunyai arti bahwa pasar waru adalah Pasar Wonosobo waktu itu, para bakul banyak berlindung di bawah pohon waru yang banyak ditanam di sana. Dengan adanya pergeseran dan kemajuan jaman pasar waru dulu, kini menjadi pasar induk yang telah dibangun permanen dan megah. 


    Sedangkan Kedhung ilang kumandhange, saat ini banyak waduk yang menyusut debit airnya karena banyak digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang.



    24 JULI 1825 HARI JADI KABUPATEN WONOSOBO


    Wonosobo dari masa ke masa tidak dapat dilepaskan oleh faktor kepemimpinan, sebab kemajuan peradaban masyarakat itu tergantung oleh para pemimpinnya. Maka seni kepemimpinan dan manajemen kepemimpinan mempunyai andil besar dalam menggerakkan masyarakat kearah perubahan yang lebih baik dan membentuk karakteristik masyarakat itu sendiri.


    Untuk mengetahui sejarah para pemimpin suatu daerah tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu suatu penelitian terhadap peninggalan-peninggalan sehingga dapat dibuktikan secara akurat dan seksama, dan dilakukan secara sungguh-sungguh oleh tim ahli dan profesional tentunya.


    Perburuan sejarah penguasa Wonosobo baru dapat dilaksanakan tahun 1994, bersamaan dengan penelitian Hari Jadi Wonosobo. Penelitian itu dilakukan oleh Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada Yogyakarta, yang didukung oleh para tokoh-tokoh yang mengetahui sejarah Wonosobo, mantan Kepala Daerah Wonosobo, Bagian Kebudayaan, para Tokoh Ulama serta segenap sesepuh dan pinisepuh Wonosobo. 


    Dilanjutkan dengan seminar untuk menentukan tentang Hari Jadi Wonosobo, yang hasilnya disepakati tanggal 24 Juli 1825, sebagai Hari Jadi Kabupaten Wonosobo dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1994. 


    Dari hasil penelitian hari jadi Wonosobo yang ditulis oleh tim peneliti dan dipimpin oleh Dr. Djoko Suryo, pada Maret 1994 dapat diketahui sejarah Wonosobo secara singkat dan jelas dengan memadukan berbagai sumber yang ada.


    Adanya ketiga tokoh cikal bakal masyarakat Wonosobo yaitu Kyai Walik, Kyai Kolodite dan Kyai Karim, akhirnya Wonosobo berkembang. 


    Bertahun-tahun kemudian, berdasarkan cerita tutur yang ada, muncul seorang tokoh Ki Tumenggung Kertowaseso, seorang piawai yang menjadi penguasa daerah Wonosobo yang kala itu berpusat di Selomanik. 


    Sedangkan penguasa daerah Wonosobo yang berpusar di Pecekelan Kalilusi adalah Tumenggung Wiraduta. Ketika Tumenggung Wiraduta berkuasa pada saat itu, kemudian memindahkan pusat kekuasaan di Ledhok Wonosobo, atau daerah Plobangan Selomerto sekarang ini. 


    Muncul cerita tutur pula bahwa daerah Wonosobo pernah dipimpin oleh cucu Kyai Karim (cikal bakal masyarakat Wonosobo). Cucu Kyai Karim ini dikenal sebagai Ki Singowedono, karena perjuangannya maka Ki Singowedono mandapat hadiah satu tempat di Selomerto Wonosobo dari Keraton Mataram serta diangkat sebagai penguasa daerah ini, kemudian nama Ki Singowedono berganti menjadi Tumenggung Jogonegoro.


    Tumenggung Jogonegoro berkuasa di Selomerto cukup lama hingga akhir hayatnya, dan wafat dimakamkan di daerah Selomerto yang bernama Pakuncen. Sampai sekarang makam Tumenggung Jogonegoro yang berada di Desa Pakuncen itu masih banyak dikunjungi peziarah baik dari dalam maupun luar kota Wonosobo.


    Pada masa perang suksesi dan perlawanan Trunojoyo di Mataram pada abad XVII daerah Ledhok dan sekitarnya menjadi salah satu ajang pertempuran yang melibatkan Pangeran Puger yang dibantu oleh Namrud Raja Salingga seorang prajurit bayaran dari Makassar.


    Berdasarkan sumber tertulis yang sangat terbatas dan cerita yang berkembang di dalam masyarakat, awal abad ke XVIII Islam sudah berkembang di daerah ini. 


    Diantara tokoh penyebar agama Islam pada masa awal itu yang dikenal di daerah ini adalah Kyai Asmarasufi, yang mengembangkan pengajaran Agama Islam dan mendirikan masjid di Dukuh Bendosari Sapuran. 


    Konon tokoh ini adalah menantu Tumenggung Wiraduta seorang penguasa daerah Pecekelan Kalilusi ini pada masa Mataram Islam. 

    Kyai Asmarasufi dan beberapa kyai dari luar Wonosobo seperti dari Purworejo dipercaya sebagai tokoh yang kemudian menurunkan para Ulama Islam dan pemilik Pondok Pesantren terkenal yang ada di Wonosobo pada masa berikutnya, seperti Kyai Ali Bendosari, Kyai Syukur Soleh, Kyai Mansur Krakal, Kyai Abdul Fatah Tegalgot, Kyai Soleh Pencil, Kyai As'ari, Kyai Abdul Fakih, Kyai Muntaha dan Kyai Hasbullah.


    Pada abad ke XVIII diketahui, bahwa Ledhok yang juga merupakan bagian dari daerah Wonosobo, merupakan daerah yang berada di dalam yurisdikasi Kerajaan Mataram. Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, daerah Ledhok Wonosobo merupakan daerah mancanegara Kasultanan Yogyakarta dan menjadi pusat pertahanan pasukan Hamengkubowono I yang bernama Sawunggaling dan menjadi ajang pertempuran pasukan Sawunggaling dengan pasukan Belanda. Setelah perjanjian Giyanti ditandatangani, akhirnya tentara VOC ditarik ke Semarang.


    Semasa perang Diponegoro, wilayah Wonosobo merupakan salah satu medan yang penting antara lain daerah Gowong, Ledhok, Sapuran, Plunjaran dan Kertek.

    Daerah ini menjadi salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Pangeran Diponegoro, dengan kondisi alam yang menguntungkan dan dukungan masyarakat yang besar sejak perang berlangsung.

    Masyarakat Wonosobo memberikan dukungan secara terus menerus kepada Pangeran Diponegoro sampai menjelang perang berakhir. Ketika pasukan Pangeran Diponegoro semakin kacau dan lemah serta sulit mendapat dukungan di daerah lain, masyarakat Wonosobo memberikan dukungan tidak hanya tenaga dan materi melainkan juga moral. 


    Sebagai daerah yang terkenal dengan pertunjukan wayang dan gamelan pda masa itu, orang Ledhok merupakan salah satu kelompok yang membawa bende, tambur dan gong ke medan pertempuran untuk memperkuat moral pasukan Diponegoro.


    Tokoh penting dalam mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro di Wonosobo melawan kekuasaan kolonial ialah Imam Musbah, Mas Lurah, Gajah Permodo dan Setyonegoro. 


    Pada awal bulan Agustus 1825, pasukan rakyat pendukung Diponegoro di Ledhok dan Gowong telah melakukan perlawanan dengan cara mengganggu posisi jalur gerakan pasukan Belanda antara Bagelen, Kedu, Pekalongan dan Semarang.


    Akhir November 1825 pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Cleerens sampai di Wonosobo, mereka harus menghadapi rintangan dari dua benteng lawan yang dipersenjatai dua buah lilla. Sampai akhir bulan Maret 1826 terjadi pertempuran yang dahsyat di daerah ini.


    Bulan Desember 1827, Pasukan Belanda di Wonosobo dan Kertek diserang oleh tidak kurang 1000 orang pengikut Pangeran Diponegoro, yang dipimpin oleh Pangeran Notobronto dan Notodiningrat. 


    Pasukan rakyat Ledhok yang dipimpin oleh Mas Lurah berhasil mengalahkan pasukan Belanda, sehingga lebih dari 30 pucuk senjata dan mesiunya berhasil dirampas. Sementara itu di daerah selatan rakyat Gowong yang dipimpin oleh Imam Musbah juga sangat merepotkan tentara Belanda. Walau Belanda dapat menguasai beberapa kawasan di Wonosobo sekitar Mei 1828, namun kesulitan untuk menghancurkan pusat kekuasaan pasukan pendukung Pangeran Diponegoro.


    Pengaruh Tumenggung Karto Sinuhun atau Imam Musbah dan Tumenggung Mangku Negaran atau Mas Lurah masih sangat terasa, akhirnya Belanda pada akhir tahun 1828 mulai melakukan serangan yang intensif terhadap posisi pendukung Pangeran Diponegoro, membumihanguskan setiap desa yang memberikan dukungan logistik pada Mas Lurah atau Imam Musbah, serta mengancam akan menghancurkan makam para leluhur. 

    Taktik Belanda ini cukup berhasil, pertengahan bulan Nopember 1828 akhirnya Mas Lurah menyerahkan diri. Namun perjuangan masyarakat Wonosobo yang mendukung Diponegoro tetap berlangsung di pimpin oleh Diponegoro Anom dan Imam Musbah.


    Tumenggung Gajah Permono dari Gowong mempunyai peranan sangat penting dalam serangan pasukan pengikut Diponegoro yang dipimpin oleh Basah Abdul Muhyi terhadap pos Belanda di Sapuran pada pertengahan tahun 1829, perang yang hebat sebelum berakhir tahun 1830.



    WONOSOBO SEMASA SETJONEGORO BUPATI PERTAMA


    Seperti disebutkan di atas, salah satu tokoh penting yang mendukung Pangeran Diponegoro di daerah Wonosobo adalah Setjonegoro. Walaupun perjuangan tokoh ini tidak hanya terbatas di Wonosobo melainkan di daerah Purworejo, Magelang dan Klaten, akan tetapi keberadaan tokoh ini sangat penting dalam sejarah Wonosobo.


    Setjonegoro adalah Prajurit yang diangkat menjadi Tumenggung di daerah Ledhok oleh Pangeran Diponegoro, dan beliau di kenal sebagai seorang bupati yang pernah berkuasa di Ledhok. Latar belakang diangkatnya Setjonegoro menjadi penguasa Ledhok oleh Pangeran Diponegoro karena Setjonegoro pernah berjasa bagi perjuangan Pangeran Diponegoro.


    Pada bulan Juli 1825 Setjonegoro yang kala itu bernama Muhammad Ngaprah mendapat perintah dari Pangeran Diponegoro untuk menghadang pasukan Belanda dari Kedu di Logorok dekat Magelang, bersama Mulyosentiko. 

    Mereka memimpin pasukan pendukung Diponegoro. Dalam pencegatan di Logorok itu pasukan yang dipimpinya dapat melumpuhkan tentara Belanda, menewaskan ratusan tentara Belanda, termasuk 40 orang tentara Eropa, serta dapat mengambil emas lantakan senilai 28.000 gulden. Bala bantuan tentara Belanda di Kedu itu berjumlah 200 orang dengan membawa uang sebanyak 5 laksa, dan tersisa 15 orang tentara Belanda yang berhasil melarikan diri.


    Pertempuran ini merupakan kemenangan pertama bagi pasukan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda. Akhirmya Jayeng Menggolo seorang Demang dari Samen atau Muhammad Ngaprah yang ahli dibidang mesiu itu diangkat menjadi penguasa Ledhok dengan nama Tumenggung R. Setjonegoro dan Kertonegoro kepada Mulyosentiko. 

    Pada masa-masa selanjutnya Setjonegoro sangat aktif mendukung perjuangan Diponegoro di daerah lain, termasuk Bagelen dan Ledhok, bersama pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro yang lain.


    Dalam suatu petempuran di daerah Ledhok dan sekitarnya Tumenggung Setjonegoro mengerahkan 1000 orang prajurit yang di pimpin oleh Mas Tumenggung Joponawang menghadapi serbuan Belanda.


    Disamping itu Tumenggung Setjonegoro juga pernah mendapat tugas dari Pangeran Diponegoro mengerahkan prajurit untuk mengepung benteng Belanda di Bagelen dan mempunyai peranan penting di dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di daerah Kedu yang mengakibatkan terbunuhnya pemimpin pasukan Belanda Letnan De Bruijn dan R.T. Danuningrat, Bupati Magelang yang berpihak pada Belanda. Dalam pertempuran itu pasukan Belanda berjumlah 200 orang, sementara itu Tumenggung Setjonegoro bersama Kertonegoro dibantu oleh pasukan Bulkiyah yang dipimpin oleh Haji Usman Ali Basah dan dibantu oleh 2 orang Tumenggung, yaitu Haji Abdulkadir dan Haji Mustafa.


    Biarpun Setjonegoro bergerak dari satu daerah lain dalam mendukung Pangeran Diponegoro sebagai penguasa daerah Ledhok selama perang berlangsung, Tumenggung R. Setjonegoro menjadi Bupati Wonosobo dari tahun 1825 sampai tahun 1832 dan Tumenggung R Setjonegoro merupakan Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan kota Wonosobo sekarang ini. 

    Sumber https://peraturan.bpk.go.id/perbup_no_13_th_2012. 

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sudut