Dan aku melihatmu, tetap dengan keangkuhan yang mengurat nadi
Kau berdiri pongah, penuh jumawa, menantang matahari
Berbalut luka yang kau jadikan kulit kepalsuan
Menghiba simpati dari setiap sudut semesta yang tak pernah benar-benar peduli
Lalu aku menyunggingkan smirk di lengkung bibir yang lelah
Melirik tajam pada ayunan angin tipuan yang kau pelihara
Mendekap tangan sambil batinku bergumam lirih
Ya—kaulah penebar dusta yang tak tertandingi siapa pun
Maka biarlah langkahmu larut di balik kabut horizon
Menjadi bayang samar yang tersangkut pada tirai senja
Jejakmu berjatuhan seperti serpih kaca
Tak mampu memantulkan apa pun selain busuknya niatmu sendiri
Dan aku berdiri sebagai batu sunyi di tepi waktu
Membiarkan arus angin menenggelamkan namamu ke jurang tak bermuara
Tak ada dentum, tak ada bisik—hanya musim yang meraut ingatanmu
Sebab kebenaran telah menanggalkan topengmu jauh sebelum malam tiba.
Sumber; Wanita_Hujan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar